Izinkan aku menikah Yaa...Rabb....

 

 Ketika hati berbisik, "Rabbi, izinkan aku menikah " seperempat abad lebih 1 warsa sudah terlalui, entahlah detik-demi detik ini melenakan, membawaku menempuh segala hal dan melewati masa tanpa kusadar. Demi masa, Rabb telah berfirmab, " sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, melainkan mereka yang beriman dan beramal shaleh." Lalu, waktu yang kutempuh telahkah menjadi waktu yang bermanfa'at ?..

     Apalagi ketika hati kecil mulai berbisik lewat do'a-do'a lepas sembahyang lima waktuku, " Rabbanaa hablanaa min aswaajiina wa dzurriyaatiina qurrata aa'yuun, inna jaalna lil muttaqiina imaamaan..."
Ah, adalah ini petanda bagiku untuk menempuh perjalanan lebih panjang lagi agar bisa menemukan sebelah hati yang belum jua singgah itu ? Bisa jadi.

     Namun, ketika kulihat keluar jendela dunia mengapa begitu banyak hal tak sesuai dengan mauku, suami dibakar oleh istrinya anak-anak diperlakukan seenaknya, diaborsi, dibawa mengemis oleh ibundanya, disulut rokok oleh ayahnya, bahkan dicaci maki oleh orang yang semestinya memberi mereka rasa aman, penyayang, dan motifasi.

     Masa allah...Apa gunanya menikah kalau itu tak mengubah keadaan lebih baik, tak mendatangkan kedamaian diantara mereka?  Hmm...Aku terdiam dan kembali merenung...
 " Apakah yang mereka mau? mengapa setelah menyandang status ibu atau ayah, banyak orang yang berlaku seperti itu? Apakah hanya untuk sebuah status? ataukah karena dikejar umur sementara dikejar umur sementara tersadar mereka menua sebelum benar-benar mempersiapkanya?... Astagfirullah...jangan jadikan saya seperti mereka ya rabb...Aku, tidak semestinya berlaku seperti mereka. Alangkah sedihnya kedua orang tuaku bila aku yang telah di didik sekian tahun ini berubah demikian...seolah tiada berarti segala upaya dan pengorbanan beliau berdua. Jadi biarlah, aku terus berusaha memperbaiki diri, ya...agar aku tau seperti mereka, tak seperti kisah sinetron yang menjangkiti indonesia. Hmm...bukankah untuk melangkah kejenjang itu, bukan saja cinta. Bukan pula hanya aku dan dia secara pribadi, melainkan juga kedua keluarga besar belum lagi modal kasih sayang, persahabatan, dan materi ?.."

     Renunganku tidak berhenti disitu.
Kadang, hal taraf menikah jadi topik hangat perbincanganku dengan temen-teman, terutama yang...he e, sudah berumur. Satu diantaranya yang terngiang dalam benaku, ya...isi pesan singkat seorang teman. ia sungguh terobsesi jika suatu hari nanti diberi kesempatan mendapatkan amanah seorang keturunan ia ingin dipanggil bunda...ia masih sama seperti saya, melajang karena sesuatu hal, suatu alasan.
Hmm...hanya karena belum menemukan dia yang sevisi. Maka, kadang isi sms yang berlontaran diantara kami pun kadang tidak jauh dari itu..." lho begitu budhe...jodoh itu takan kemana...kalau allah sudah menakdirkan kita menikah mesti ketemu. sekarang kita belajar aja untuk menjadi istri yang baik, insya allah dilain tempat seseorang juga lagi belajar untuk menjadi suami dan ayah yang baik."

    Tentu, siapa yang sanggup menyaksikan ketentuan allahu rabbi? bahwa..."perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, sebaliknya perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji pula." Hmm, tapi dasarnya manusia biasa. Sa'at aku sedang sendiri, sepinya hati sungguh tiada bisa dibendung. Bukan lagi, " I'm sengle and very happy "-nya oppie Andaresta yang jadi theme song hati. Waduh...mulai lagi ini...pfiuh...kalau sudah seperti itu, kupalingkan fokus pikiran menuju kesibukan yang bakal menenggelamkan separuh energiku.

     Ah...Rabb, semestinya aku bersabar, bukan mengeluh. Aku belajar untuk mengerti, segala macam yang terjadi dalam hidupku, sesungguhnya telah diatur dengan sedemikian baiknya. Lalu, apa yang harus aku risaukan lagi ? bukan apa, tapi siapa, mereka orang-orang disekitarku. " mba, kapan nih bulik dikenalkan sama calonmu?" pertanyaan semacam itu kadang tak mempan menggoyahkan keinginanku untuk tetap melajang ; tapi, lain waktu ?...Hikss

     Akhirnya, aku berpikir untuk berhenti mengejar keegoisanku. tak perlu memblokade jalan sekedar menemukan pria berwajah rupawan. Tak perlu berlarian kesana-kemari, berteriak sembari mengacungkan poster bertuliskan, " WOULD YOU MARRY ME ?? " oh my god...itu konyol...sudahlah, biar kusibukan diri, mencari bekal menuju yang terbaik. Rabb...tentu takan menyiakan usaha hambanya  karena ia menilai proses, apa pun hasilnya.

     At last, satu permohonan sederhana....
" Rabb...Engkaulah penentu atas setiap hal yang lahir, yang bathin, maka perkenankanlah pengharapan baikku. Biar terus kulantunkan kidung puja-puji kehadirat-MU. Biar sesering mungkin kuketuk pintu langit agar engkau benarkan. Wahai dzat yang maha berkehendak, aku berbisik disela kesunyian hatiku dan berharap selalu engkau menggerakan hatinya, seseorang yang engkau tunjuk untuk datang dan mengetuk pintu hatiku. izinkzn aku menerimanya, mencintai dengan segenap kurang-lebihnya, mencintai dengan sederhana....izinkan aku menikah yaa Rabb...Amin yaa mujiib "