Papa Liem

    
   

PAPA LIEM

By; Turyana

   

      Malam itu,Yana mendapat berita dari Bibi yang menjaga papa Liem. Bahwa penyakitnya papa Liem bertambah buruk lagi. Malah lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Dengan cepat malam itu juga,Yana pegi kerumahnya Papa Liem,untuk menjenguknya. Kebetulan Papa Liem masih bisa bicara,dan masih mengenalinya sambil mengingat Darmin sahabat karibnya. Namun penyakitnya memang sudah semakin parah terhadap orang tua itu.
    
      Masalah yang dihadapi Yana,Darmin tidak ada disini sekarang. Darmin sedang pulang kekampung di Indonesia sana saat ini. Namun Darmin pernah berpesan sebelum pulang,jika Papa Liem keadaannya semakin serius,walau dengan cara apa sekalipun Darmin akan kembali lagi ke Malaysia. Tapi tidak mungkin Darmin langsung kesini kalau aku beritau,sebab dia baru pulang kekampungnya sejak sekian lama disini. Dan juga tidak mungkin aku menyuruh dia cepat datang lagi kesini,karena dia pulangpun belum sampai satu minggu. Yana tidak tega untuk memberitau Darmin tentang keadaan Papa Liem sekarang. Biarlah nanti dia yang bertanggung jawab menjelaskanya kepada Darmin kalau dia kembali lagi kesini. Yana menguatkan semangatnya,dan hidup ini pun sememangnya memerlukan semangat yang kuat untuk menghadapi arus deras dan runi ombak kehidupan ini.

     Yana memandang wjah Papa Liem dengan sayu,begitu juga dengan Papa Liem memandang Yana. Wajah mereka berpandangan dan ada garis perjuangan dan penderitaan diretina mata mereka.  Bibi pula masih mengerjakan sesuatu untuk keperluan hari itu. Semenjak Yana pindah kontrakannya,Papa Liem tinggal dengan Bibi dan suaminya. Papa Liem tidak mau tinggal bersama mereka,' menyusahkan kamu berdua ' katanya kepada Bibi. Didapur Yana mengdengar bunyi pinggan dan gelas bertemu diantara satu sama lainnya,' bibi sedang mencuci pinggan ' kata Yana dalam hati.

" papa bagaimana keadaannya? " tanya Yana dengan suara perlahan dan semakin rapat dengan tempat tidurnya Papa Liem.

     Papa Liem hanya menggelengkan kepalanya tanda penyakitnya masih belum sembuh. Memang menurut Dokter,penyakit kangker yang menyerang Papa Liem ini tidak mempunyai harapan untuk sembuh. Malah ketika Yana mengantar Papa Liem ke rumah sakit,Dokter menasehatinya agar membawa Papa Liem pulang saja dan menjaganya dirumah.

     Papa Liem memberikan senyumannya sekali lagi kepada Yana,senyuman itu sebenarnya memberi banyak makna didalam kehidupan mereka bertiga. Kehidupan Yana,Darmin dan Papa Liem sendiri. Senyum itu tetap tidak berubah,meskipun Papa Liem sudah dimamah usia. Papa Liem dengan senyuman itulah menjaga mereka berdua disini,menjaga mereka bagaikan membawa minyak yang penuh. Masih terngiang-ngiang ditelinganya sewaktu Papa Liem memberi nasehatnya kepada kami. Papa Liem akan bernyanyi sambil memberi nasehat buat kami berdua.

     Papa Liem bersama senyuman itulah membimbing mereka mengenal pencipta kehidupan sebenar. Bersama senyuman itu jugalah yang membela mereka ketika terumbang-ambing diarus deras kehidupan ini. Sedangkan masyarakat sekitarnya tidak mau mengambil tau tentang nasib manusia-manusia kerdil seperti mereka. Dunia memejamkan mata! Dunia juga membisu seribu bahasa! pada nasib manusia kerdil seperti mereka.

" tinggal bersama Papa Liem harus baik-baik,tidak mau nakal tau? " bisik Papa Liem ketika mula-mula mengajak kami tinggal bersamanya.

     Itulah perkataan yang masih terngiang-ngiang ditelinga Yana. Waktu itu diapun tidak mengerti kenapa dia harus tinggal dan hidup bersama Papa Liem,dan juga Yana merasa hidup ini satu paksaan yang harus ditempuhinya bersama Darmin sahabatnya.

     Dia masih ingat lagi,makan dan minumnya bersama Darmin,pakaian dan berbagai macam keperluan lainnya ditanggung oleh Papa Liem. Alangkah besarnya jasa Papa Liem terhadap dirinya dan Darmin. Kalau diibaratkan dengan gunung dan lautan,rasanya masih besar jasa Papa Liem terhadap mereka berdua.

     Papa Liem lah yang selalu mencarikan mereka pekerjaan,dia perkenalkan kami berdua dengan teman-temannya. Jika temannya ingin membuat sesuatu pekerjaan,Papa Liem lah yang selalu menunjukannya kepada mereka tentang kami. Ketika mereka menanyakan tentang majikan,Papa Liem jugalah yang mengaku menjadi majikan kami.

     Tentu merasa aneh bukan,bila kami yang beragama islam tinggal bersama dengan orang yang bukan islam. Bertambah aneh lagi apabila Papa Liem sangat prihatin dengan perkembangan agama kami. Dengan rasa tersisih dan kurang bergaul dengan masyarakat sekitar,pada mulanya kami merasa canggung ketika Papa Liem selalu mengajak kami bergaul dengan mereka.

" kamu mesti menunaikan dengan betul agama kalian itu,lagipun islam itu agama yang bagus. kalian bisa menjadi orang baik-baik "

    Demikian Yana terkenang tutur kata Papa Liem yang sudahpun menjangkau usia tua ketika itu,dan apabila nostalgia itu mengusik mindanya,dia tersenyum sendirian. Tersenyum karena mereka berdua selalu disuruh bersembahyang dan mengaji,sedangkan Papa Liem sendiri menyembah colok yang dibakarnya sendiri. Apabila Yana bertanya kepadanya,mengapa berbuat demikian?

" Papa bersembahyang untuk kakek dan nenek Papa yang telah lama meninggal dunia ",mendengar yang demikian Yana pun diam,tapi Darmin yang suka menyela orang ketika berbicara lalu berkata;

" Papa masuk islam saja seperti kami,islam bagus Papa?. nanti bisa masuk surga? "

     Papa Liem hanya tersenyum dan kemudian tertawa lirih,orang tua itu tidak tau untuk menjawab perkataannya Darmin. Tapi tanganya dengan perlahan mengusap-usap rambut keriting Darmin dengan penuh kasih sayang. Malamnya pula,sambil beristirahat sebelum tidur Papa Liem terus dengan nasehat-nasehatnya kepada kami berdua. Sehingga mata kami tertidur dengan lena tanpa memperdulikan dunia yang gulita dan kejam disekelilingnya.

     Kini kami sudah mulai bisa mandiri,berkat bimbingannya. Darmin sudahpun bisa pulang kekampungnya setelah sekian lama terbawa oleh kemewahan hidup disini. Bahkan katanya,Darmin mau membangun rumah dikampungnya. Semua itu sudah tentulah hasil bimbingan yang diberikan Papa Liem terhadap kami tanpa jemu-jemu. Dan jua dengan ijin Allah juga dia cukup berterima kasih kepada Papa Liem yang selama ini telah menunjukan kami jalan agar tidak lari dari tujuan sasal.

     Tapi hari ini keadaan begitu teruja baginya,setelah penyakit Papa Liem begitu kritikal kini,sadarlah dia tidak maunya Papa Liem kepada islam adalah karena hidayah dari Allah juga. Tapi dari dulu dia dan Darmin sendiri tidak pernah berputus asa untuk mengajak Papa Liem kepada agama yang suci ini. Tapi Papa Liem tetap berdegil,hati Papa Liem tetap keras seperti batu. Malah kalau diibaratkan kerasnya batu,hati Papa Liem lebih keras lagi.

     Mengingat kedegilan Papa Liem,mau rasanya merajuk dan mengancam untuk tidak menjenguk orang tua itu selalu. Tapi tidak sampai hati pula berbuat demikian karena islam bukanlah agama paksaan,hidayah pula bukan datang dari genggaman manusia tapi dari Allah jua,yang ada padanya hanya sepohon doa dan secebis harapan untuk Papa Liem tercinta.

" Yana, Papa teringat Darmin dan nasehat-nasehat itu " bisik Papa Liem tidak bermaya.

     Papa Liem masih tersenyum. Hari-hari yang pernah dilaluinya bersama Darmin begitu jelas dalam ingatannya,nasehatnya bermain-main semula dalam nostalgianya.

" Tapi Darmin baru beberapa hari pulang ke Indonesia Papa? " jawab Yana.

" Tidak mengapa-tidak mengapa,biarlah dia dengan kegembiraannya bersama keluarganya. Lagipin rasanya tidak sempat lagi kami hendak bersama " keluh Papa Liem. Kemudian dia berkata lagi;

" Yana?...kamu bacalah ayat-ayat Al-Qur'an yang sering kamu baca dirumah ini dulu. Papa sudah lama tidak mendengarnya " bisik Papa Liem.

     Mendengar permintaan Papa Liem yang ganjil itu,Yana menjadi tidak karuan.' Bolehkah orang bukan islam yang sedang nazak dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an ditelinganya? '

" Bacalah Yana? " desak Papa Liem lagi.

" Papa harus mengucap dulu,biar Yana ajarkan ya? " desak Yana dengan seribu harapan walaupun merasa gemetar seluruh tubuhnya. Moga Allah membuka hidayahnya.

" Ajarkanlah " balas Papa Liem dengan nada menyerah dan sungguh tidak bermaya.

     Mendengar permintaan Papa Liem itu,Yana benar-benar terkejut. Dan sambil menangis terisak-isak,dia pun membisikan dua kalimat syahadat itu ditelinga Papa Liem,dan dengan lancar Papa Liem mengikuti apa yang diucapkan oleh Yana. Sehinggalah nafasnya benar-benar berhenti dan ketika itu terpisahlah Papa Liem dari dunia yang fana ini.

     Milihat nafas Papa Liem yang sudahpun berhenti,Yana menundukan mukanya ditepi ranjang Papa Liem. Dia begitu terharu,karena Papa Liem menghembuskan nafas terahirnya dalam kalimat ' La illaha ilallah ' kalimat yang menentukan seseorang itu islam atau tidak.

" Memang Papa Liem sudah memeluk agama islam Yan? " tanpa sadar Bibi yang sedari tadi duduk disebelahnya berkata.

" Papa Liem islam?..bagaimana Bibi tau?.." tanya Yana dengan rasa keheranannya kepada Bibi.

" Sudah tiga bulan yang lalu,sertifikat islamnya ada didalam lemari " balas Bibi penuh dengan perasaan.

     Yana tidak dapat menahan perasaannya,dia memeluk Bibi sambil mengis gembira dan duka. Dia teringat Darmin yang selalu disayang dengan nasehat-nasehatnya Papa Liem,dan Darmin pula harus diberitau dengan segera tentang kematiannya Papa Liem. Jenasah Papa Liem harus dikubur ditanah pekuburan orang-orang islam,Yana membuat keputusan.


TAMAT

Saya publis juga DISINI