Berbagi Berita dan Cerita

DISQUS

Friday, 16 October 2015

HUJAN

     Kamar yang berbeda menyebabkan saya suka memilih gerimis. Dengan titisan yang pantas,gerimis turun mengalir mengikut cucur atap lalu segera menitis keatas lekukan tanah yang basah. Sebaik-baik saja turunnya titis-titis gerimis yang pertama,petrichor pun keluar dari bumi.
    
     Sewaktu kecil,saya tidak tau yang namanya patrichor,saya hanya memanggilnya sebagai ' bau hujan '. Harum dan menambah keindahan kepada warna alam yang sedang bertukar menjadi cantik tatkala hujan. Barang kali jaman kanak-kanak yang tidak banyak derita,hujan itu seringkali saya kaitkan dengan kegembiraan. Hujan itu kandungannya air. Hujan itu menghidupkan sepertimana air menjadi punca kepada semua kehidupan.
    
     Cinta kepada hujan ini selalu saja dikaitkan dengan istilah bermain hujan-hujanan,menadah titis-titis dari cucur atap dengan telapak tangan yang kecil. Hujan itu ketenangan bagi sang anak tunggal seperti saya. Bermain-main dengan alam dan berbahasa dengan sang hujan.
     Saya tidak setuju apabila filem-filem itu menggunakan hujan sebagai simbol kepada babak sedih. Kononnya mau mengaburi air mata itu dengan hujan. Atau ungkapan klisenya bahwa ' alam sedang menangis bersama-samaku '. Ah,hujan bukanlah tempat berselindung daripada kesesihan. Hujan itu cara alam membasuh dunia. Membuang kesedihan,kekotoran dan segala yang negatif.
     Hujan itu bahagia. Siapa yang tidak suka hujan pada waktu malam apabila sedang bertemankan selimut,bantal dan tilam yang empuk. Hujan ialah pelengkap kepada sebuah nikmat yang menyempurnakan tidur. Andai terjaga pada waktu malam dan terdengar titis-titisnya jatuh diatas pohon,kaca jendela atau bagi yang bertuah masih tinggal dirumah beratap seng,bunyi itu membuat kita tersenyum,menarik selimut dan menikmati sisa tidur yang masih ada. Karena hujan yang berbunyi monotonus itu tidak sama dengan deru perlahan sebuah pendingin hawa didalam kamar...
Adbox