Berbagi Berita dan Cerita

DISQUS

Thursday, 26 November 2015

Terima Hakikat Mahalnya Biaya Hidup Masalah Dunia

Rakyat perlu realistik,bukannya menjadikan pemerintah sebagai sasaran
   Sekarang apabila ada orang yang berkumpul diwarung kopi ataupun dirumah tetangga,pasti yang menjadi topik pembicaraan adalah meningkatnya biaya hidup. Memang tidak dinafikan perbelanjaan untuk biaya hidup kini semakin tinggi. Bagi yang bekerja jauh dari rumah,harga sekali makan siang saja sekarang kira-kira 20/25 000 Rp,duit uang saku anak sekolah pun sekarang tidak cukup lagi kalau kita beri 1000 atau 2000 Rp,tapi sekurang- kurangnya 5000 Rp seorang. Bayangkan jika punya anak empat yang masih sekolah.
   
   Bagi yang setiap harinya menggunakan jalan tol untuk pergi kerja atau pun untuk keperluan lainnya setiap hari,tentu menambah lagi perbelanjaannya. Kepada yang merokok,jika tidak dihentikan kesukaan itu atau sekurang-kurangnya mengurangkan bilangan pembakaran setiap harinya,kesannya kepada perbelanjaan harian amat mereka rasakan. Jika seorang perokok menghabiskan satu bungkus sehari-sebulan 30 bungkus,dengan harga perbungkusnya 15 000 Rp,artinya mereka perlu berbelanja untuk rokok 450 000 Rp perbulannya.
   Apabila berbicara mengenai meningkatnya biaya hidup,yang menjadi sasaran biasanya pemerintah. Pemerintah dituduh menjadi puncanya apabila mengurangkan atau menghentikan subsidi bagi barang atau keperluan lainnya yang selama ini harganya rendah karena disubsidi. Malah,sesetengahnya seperti BBM dikatakan menjadi penyebab kenaikan harga barang dan keperluan lainnya. Ini pun tidak bisa dinafikan,tetapi adakalanya kita perlu realistik. BBM umpamanya,pemerintah bisa saja terus memberi subsidi besar untuk memastikan harganya tetap rendah,tetapi bebannya tentu bertambah setiap tahunnya,mengambil contoh pertambahan bilangan penduduk.
   Pada tahun 2000,penduduk negara ini sekitar seratus sekian juta,tapi jumblahnya sekarang sudah dua ratus sekian juta dan ia bertambah pada kadar sekitar sekian persen setahun. Jika setiap penduduk dianggarkan rata-rata menggunakan BBM seliter sehari saja,maka BBM yang perlu disubsidi pemerintah sudah bertambah sekian juta liter perharinya. Itu belum mengambil kira perubahan gaya hidup yang menyaksikan meningkatnya penggunaan bahan api itu.
   Purata harga minyak dunia pada tahun 2000 pula hanya sekian dollar/berrel dibandingkan sekian dollar/berrel sekarang. Jadi,jika pemerintah mau terus memberi subsidi yang besar untuk BBM dan berbagai barang keperluan lainnya,ia ada dua pilihan yang harus kita terima. Pertama,memotong perbelanjaan pembangunan dan mengecilkan sektor pemerintahan bagi mengurangi perbelanjaan pengurusan. Tetapi jika ini dilakukan orang ramai juga akan mengeluh karena tidak ada pembangunan,manakala mutu pelayanan umum tentunya terjejas. Tiada pembangunan berarti tiada pertumbuhan ekonomi yang sudah tentunya memberi kesan lebih buruk kepada kita sebagai rakyat.
   Kedua,terus menambah hutang bagi menampung perbelanjaan subsidi itu yang bermakna kita senang sekarang,tetapi susah kemudian. Berkaitan semakin mahalnya biaya hidup,ada yang berpendapat penyelesaiannya ialah dengan menaikan pendapatan rakyat. Maksudnya menaikan gaji pegawai negri dan swasta,sementara petani diluar kota pula dibayar lebih tinggi bagi hasil pertanian mereka.
   Nampaknya mudah,tetapi pada hakikatnya jika gaji dinaikan tanpa ada perubahan dalam produktifiti,ia akan menyumbang kepada kenaikan harga lebih tinggi karena perlu diingat,gaji adalah antara biaya yang paling besar mana-mana organisasi dan perusahaan. Dan jika petani dibayar lebih tinggi dari hasil pertanian mereka pula,maka harga dipasaran kebutuhan pokok akan meningkat dan kita yang juga sebagai konsumen sudah tentunya akan mengeluh juga jika harga satu biji cili sampai 1000 Rp.
   Sebenarnya masalah semakin meningkatnya biaya hidup ini bukanlah terjadi dinegara kita saja,tapi seluruh dunia yang berkaitan perkara asas ekonomi,iaitu penawaran dan permintaan.
@Kang Yana
  
Adbox